Meningkatkan Faktor Non-Intelektif dalam Motivasi Belajar Fisika dengan Konseling Behavioral

Author: 
Suhas Caryono
Es Triyanto
Abstrak: 

Minat siswa dalam fisika tampaknya menurun di semua tingkat pendidikan di sebagian besar negara termasuk Indonesia. Siswa menganggap fisika menjadi sangat sulit, serba matematis dan abstrak pokok bahasannya. Sebagian besar siswa mendapatkan nilai yang buruk, kehilangan minat dan memiliki sikap negatif terhadap fisika. Terapi konseling behavioral digunakan untuk membantu klien memperoleh keterampilan koping baru (ketrampilan suatu upaya individu untuk menanggulagi stress yang menekan akibat masalah yang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya sendiri), meningkatkan komunikasi, atau belajar untuk mematahkan kebiasaan maladaptif dan mengatasi konflik emosional diri sendiri. Terapis/konselor perilaku terfokus pada menafsirkan perilaku klien, menekankan hubungan kolaboratif dan positif dengan klien dan nilai-nilai penggunaan objektivitas untuk menilai dan memahami klien. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pelaksanaan konseling behaviorisme untuk meningkatkan faktor non-intelektif motivasi belajar fisika pada kelas XII IPA di SMA Negeri 8 Purworejo. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Teknik sampel yang digunakan adalah sample purposive (teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu). Penelitian ini menggunakan sampel siswa-siswa yang memiliki motivasi rendah pada mata pelajaran fisika.Untuk mengetahui tingkat motivasi tersebut dilakukan konseling individu agar penilaian awal dan akhir penelitian dapat terpantau dengan baik. Instrumen penelitian menggunakan indikator berupa faktor non-intelektif motivasi belajar fisika sebelum dan setelah pelaksanaan konseling behaviorisme yaitu sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa pelaksanaan konseling behaviorisme dapat meningkatkan faktor non-intelektif dalam memotivasi belajar fisika. Hal ini dibuktikan dari hasil penilaian faktor non-intelektif motivasi belajar fisika sebelum dan sesudah layanan konseling behaviorisme dilaksanakan. Kondisi awal bernilai kategori sangat buruk (1,28) sedangkan sesudah layanankonseling behaviorisme adalah kategori baik (4,14).