95-100 Variabilitas Jangka Panjang Gangguan Ionosfer Daerah Anomali Ionosasi Lintang Rendah dari Pengamatan foF2 dengan Ionosonde Sumedang

Author: 
Buldan Muslim
Abstrak: 

Gangguan ionosfer dapat diukur dari simpangan frekuensi kritis lapisan F2 ionosfer (foF2) pada hari dan jam tertentu dari nilai median bulanannya. Data foF2 dari pengamatan ionosonde di Balai Pengamatan Antariksa Sumedamg (6,91°S;107,84°E) dan bilangan sunspot bulanan (R) selama lebih dari satu siklus dari tahun 1997 sampai 2013 telah digunakan untuk mendapatkan karakteristik variabilitas jangka panjang gangguan ionosfer daerah lintang rendah di Indonesia dengan menggunakan metode korelasi dan regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan ionosfer bervariasi dalam jangka panjang terkait dengan siklus matahari 11 tahun. Ketergantungan gangguan ionosfer pada aktivitas matahari bervariasi dalam satu hari. Secara umum, gangguan ionosfer dipengaruhi oleh siklus matahari pada siang hari dengan koefisien korelasi negatif. Pengaruh yang paling kuat dari siklus matahari pada gangguan ionosfer terjadi pada pukul 11.00 LT, dengan koefisien korelasi -0,6. Korelasi gangguan ionosfer dalam bentuk badai ionosfer negatif dengan bilangan sunspot bulanan memiliki variasi diurnal mirip dengan variasi diurnal ionosfer, yang mencapai nilai terendah negatif pada saat setelah tengah malam sampai terbit matahari dan menjadi positif dan mencapai maksimum pada siang hari. Pada 01:00 LT gangguan ionosfer negatif memiliki koefisien korelasi maksimum 0,65. Estimasi linear antara gangguan ionosfer dengan bilangan sunspot menghasilkan root mean square error (RMSE) antara 2-10%. Nilai RMSE relatif besar dalam rentang waktu sebelum dan setelah tengah malam. RMSE terkecil terjadi di pagi hari sekitar pukul 07.00 LT.

Download Makalah :