Variasi Lokal Dalam Visibilitas Hilaal: Observasi Hilaal di Indonesia Pada 2007–2009

Author: 
Muh. Ma’rufin Sudibyo
Abstrak: 

Telah dilaksanakan observasi hilaal selama Januari 2007–Desember 2009 guna memperbaiki “kriteria” MABIMS (ImkanRukyat) sekaligus menguji kriteria LAPAN. Selain menjadi basis kalender Hijriyyah nasional, “kriteria” MABIMS pun merupakan alat ujivaliditas laporan–laporan visibilitas hilaal terutama kala Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Namun validitas “kriteria” MABIMS sendiridipertanyakan mengingat homogenitasnya, pun kriteria LAPAN akibat keterbatasan datanya. Observasi dilakukan dengan bantuan alatoptik (binokuler dan teleskop) maupun tidak dan telah menghasilkan 168 data visibilitas. Analisis variabel selisih terbenamnya Bulandengan terbenamnya Matahari (Lag) dengan variabel waktu saat hilaal pertama terlihat (Best Time) menghasilkan definisi kuantitatif hilaalsebagai fungsi sederhana dari Lag. Hubungan Best Time dengan Lag memiliki bentuk sangat berbeda dibanding persamaan Yallop, namunpada Lag < 40 menit relatif mirip. Sementara analisis variabel selisih tinggi Bulan dan Matahari (aD) terhadap variabel selisih azimuthnya(DAz) dengan metode least–square menghasilkan persamaan visibilitas dua–orde: aD ≥ 0,099DAz2–1,490DAz + 10,382 yang kami usulkandinamakan kriteria RHI. Bentuk kriteria RHI hampir sama dengan kriteria LAPAN meski lebih optimistik, namun berbeda bila dibandingkandengan kriteria yang sejenis seperti dari Scoch, Maunder dan Fotheringham. Tetapi terhadap “kriteria” MABIMS sangat berbeda karenatinggi Bulan mar’i minimum tidak homogen melainkan bervariasi antara 9,38°– 3,77° sesuai nilai selisih azimuth Bulan–Matahari (0° –7,5°) . Analisis komparatif dengan data visibilitas global menunjukkan konsistensi kriteria RHI khususnya bagi daerah tropis. Sehinggaperbedaan bentuk kriteria RHI dibandingkan kriteria global dua–orde sejenis merupakan variasi lokal visibilitas hilaal, yang hanya berlakubagi daerah tropis.